LAPORAN PRAKTIKUM KPKT ACARA V

 

Nama                : Amartya Rahmawati

NIM                  : 18/427769/PN/15549

Gol                    : A5

Asisten koreksi : Luthfi Indriyani Muslihah

 

LAPORAN PRAKTIKUM KPKT

ACARA V

PROBLEMATIKA KESUBURAN TANAH DI SEKITAR TEMPAT TINGGAL

Praktikum Kesuburan, Pemupukan, dan Kesehatan Tanah (KPKT) Acara V yaitu Problematika Kesuburan Tanah di Sekitar Tempat Tinggal telah dilakukan pada Senin, 26 Oktober 2020 dengan menggunakan metode wawancara petani. Praktikum ini dilakukan di daerah Jonggrangan, RT/RW: 096/023, Jatimulyo, Girimulyo, Kulon Progo, D. I. Yogyakarta. Daerah ini memiliki altitude 700 meter di atas permukaan laut. Fisiografi daerah tersebut yaitu pegunungan dengan topografi bergunung. Kedalaman air tanah daerah tersebut lebih dari 700 cm dengan penggunaan lahan sebagai tegalan. Adapun narasumber praktikum ini yaitu Bapak Sunarno. Beliau berusia 68 tahun dan berprofesi sebagai petani.

Gambar 5.1 lahan Pak Sunarno

Ukuran petak yang diamati pada praktikum ini yaitu dengan panjang 23 meter dan lebar 5 meter. Tanah permukaan pada lahan ini memiliki tekstur sedang, berwarna coklat dengan sedikit kemerarahan, struktur granuler, kelengasan yang lembab, dan dengan kebatuan yang sedikit. Tanaman yang ditanam Bapak Sunarno yaitu bawang merah (Allium cepa L.) dengan varietas Bima. Pemilihan varietas Bima ini dikarenakan oleh ketahanan tanaman terhadap hujan. Bapak Sunarno menggunakan jarak tanam sekitar 20-30 cm. Saat praktikum dilakukan, umur bawang merah yaitu 38 hari. Untuk umur panen, apabila digunakan untuk konsumsi, maka bawang dapat dipanen pada umur 50 hari, namun apabila digunakan untuk bibit, maka bawang merah dapat ditanam pada umur 70 hari. Bapak Sunarno juga melakukan pengolahan tanah dengan maximum tillage yaitu dicangkul. Untuk mencapai hasil panen yang optimal, Bapak Sunarno menggunakan pupuk, baik organik maupun anorganik. Pupuk organik yang digunakan Bapak Sunarno yaitu kotoran kambing dan ayam, sedangkan untuk pupuk anorganik yang digunakan yaitu pupuk NPK, Urea, KCl, dan ZA. Kenampakan tanaman yang berada di lahan seragam. Pola tanam yang diterapkan oleh Bapak Sunarno yaitu monokultur dengan jenis tanaman Bawang Merah var. Bima (Allium cepa L.). Beliau mulai menanam bawang merah pada masa tanam I yaitu bulan September hingga Desember, masa tanam II pada bulan Januari hingga April, dan masa tanam III pada bulan Mei hingga Agustus. Dalam sekali masa tanam, beliau menggunakan bibit sebanyak 5-6 kg bawang merah, namun hasil panen pada setiap musim tanam berbeda. Pada musim tanam I, bawang merah yang dihasilkan sebanyak 42 kg, pada musim tanam II sebanyak 48 kg, dan musim tanam III sebanyak lebih dari 54 kg.

Gambar 5.2 Dokumentasi wawancara dengan Bapak Sunarno

Pada lahan Bapak Sunarno terdapat permasalahan, yaitu menurunnya produktivitas tanaman ketika musim hujan tiba. Ketika musim hujan, hasil panen yang didapatkan hanya sekitar 42 kg atau lebih sedikit dibandingkan pada saat musim kemarau yaitu sebanyak lebih dari 54 kg. Bawang merah pada umumnya dapat tumbuh baik pada musim kemarau. Beberapa faktor iklim yang mempengaruhi pertumbuhan bawang merah yaittu sinar matahari, curah hujan, suhu, kelembaban, dan angina. Tanaman bawang merah dapat tumbuh dengan baik apabila mendapatkan sinar matahari yang cukup dan disertai dengan hembusan angin. Curah hujan yang dibutuhkan tanaman bawang merah agar dapat tumbuh dengan baik yaitu dalam kategori sedang, tidak kekurangan ataupun kelebiham air pada saat musim kemarau atau penghujan. Suhu optimal untuk pertumbuhan tanaman bawang merah yaitu dari 20-25℃ dan pada kondisi yang lembab atau basah. Kelembaban yang dibutuhkan agar pertumbuhan tanaman bawang dapat maksimal yaitu dengan kategori yang seimbang serta angin yang berhembus secara perlahan (Suparman, 2007). Bawang merupakan tanaman yang peka terhadap suhu dan juga cahaya. Oleh karenanya, waktu tanam memegang peranan penting dalam penanaman bawang merah. Jadi, sangat penting untuk mengetahui tentang waktu tanam yang optimal pada budidaya bawang merah untuk hasil panen yang lebih baik (Sarker, et al., 2017). .Pada musim hujan terdapat berbagai hal yang dapat menyebabkan produktivitas tanaman bawang merah menurun, yaitu kerusakan akibat munculnya hama, penyakit, kabut, hujan, kesuburan tanah, dan kemurnian varietas. Cara untuk mengantisipasinya adalah dengan penggunaan teknologi untuk pengendalian hama, penyakit dan efisiensi pupuk (Basuki, 2014).


DAFTAR PUSTAKA

Basuki, R. S. 2014. Identifikasi Permasalahan dan Analisis Usahatani Bawang Merah di Dataran Tinggi Pada Musim Hujan di Kabupaten Majalengka . J. Hort. 24(3). Hal 269-271.

Sarker, R., M. Ratna, S. Ray, A.H.F. Fahim, dan M.J. Tithi. 2017. Effect of planting method on onion (Allium cepa L.) bulb production in Faridpur region of Bangladesh. Archives of Agriculture and Environmental Science. 2 (2). Hal 64

Suparman. 2007. Bercocok Tanam Bawang Merah. Azka Press. Jakarta. Hal 26-27

 

 

 

 

 

 

Comments